Rancangan penataan muka pulau — dari titik turun kapal, deretan warung warga, sampai amfiteater dan lapangan desa — ditampilkan lewat render tiga dimensi.
Masterplan menata ulang muka Pulau Parang sebagai satu kesatuan: dermaga sebagai pintu masuk, deretan warung dan pendopo sebagai ruang bertemu, lalu lapangan desa dan masjid di sisi timur. Semua terhubung jalur pedestrian yang menerus, sehingga pengunjung yang baru turun dari kapal bisa berjalan kaki menyusuri kawasan tanpa terputus.
Dermaga dirancang lapang supaya aktivitas bongkar muat perahu nelayan tidak bertabrakan dengan lalu lalang penumpang. Deretan lampu menuntun langkah sampai ke gapura bertulis PULAU PARANG, sementara gerbang lengkung dari susunan kayu dan bata menandai batas antara area tambat dan kawasan desa.
Deretan warung beratap rumbia ditata mengelilingi pelataran, jadi pengunjung bisa memilih tanpa harus berpindah jauh. Warung Makan Mete dan Gonipe menjual ikan hasil tangkapan hari itu, ditemani kedai kopi dan pendopo besar yang bisa dipakai warga untuk hajatan maupun makan bersama rombongan.
Amfiteater berundak dari susunan bata merah mengikuti garis pantai, berfungsi ganda sebagai tribun lapangan sekaligus tempat duduk menonton matahari terbenam. Di sebelahnya lapangan desa tetap dipertahankan sebagai ruang terbuka untuk upacara, olahraga, dan kegiatan warga sehari-hari.
Kenali sejarah, pemerintahan desa, dan potensi warga Pulau Parang yang jadi dasar penataan kawasan ini.